Resources

Tertipu –Tidak Ada Akuntabilitas, Tidak Ada Hak.

Reputasi buruk industri kelapa sawit telah “berhasil” bertahan di Roundtable  on Sustainable Palm Oil (RSPO), yang mengikat perusahaan anggotanya untuk mewujudkan keberlanjutan sosial dan lingkungan. Sertifikasi logo RSPO terlihat di banyak bahan makanan sehari-hari yang mengandung minyak sawit. Namun, meskipun RSPO membanggakan banyaknya produsen dan pembeli minyak sawit terbesar di antara para anggotanya, penggusuran masyarakat adat dari tanah, ladang dan hutan mereka marak terjadi.

Waduk Inga di RDK akan menyebabkan relokasi 20.000 warga masyarakat

Pada bulan Maret 2014,Dewan Direksi Bank Dunia memberikan persetujuan akhir untuk hibah sebesar USD$73 juta untuk pembangunan Waduk Inga 3 di Sungai Kongo di Provinsi Bas Congo, RDK. Inga 3 merupakan tahapan pertama dari program besar untuk membangun jaringan pembangkit listrik tenaga air terbesar dan tertinggi kapasitasnya di dunia, bahkan melebihi Bendungan Three Gorges di China.Terdiri dari satu dinding bendungan dan enam pembangkit listrik tenaga air, waduk ini akan menengelamkan Lembah Bundi,dan mengubahnya menjadi sebuah danau raksasa yang terletak sejajar dengan Sungai Kongo.

UNDP Mengadopsi Standar Sosial dan Lingkungan Baru: Sebuah Langkah Penting Yang Disambut Baik

Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) telah mengadopsi dan memberlakukan Standar Sosial dan Lingkungan yang baru (SES or Standards) (sejak 1 Januari 2015).  Standar-standar ini disertai dengan sebuah Prosedur Penapisan Sosial dan Lingkungan yang telah direvisi (SESP) dan dua mekanisme kepatuhan dan akuntabilitas yang baru, yaitu Mekanisme Tinjauan Stakeholder dan Mekanisme Kepatuhan Sosial dan Lingkungan (serta "Unit" yang dikenal sebagai SECU).

Kegagalan Luar Biasa Terungkap oleh Laporan tentang Pendanaan Bank Dunia untuk Pemukiman Kembali

Sebuah laporan investigasi mengungkapkan kegagalan luar biasa Bank Dunia untuk melacak dan memantau dampak jangka panjang dari pemukiman kembali yang disebabkan oleh pembiayaan Bank Dunia. Laporan tersebut, yang merupakan karya tim lebih dari 50 wartawan yang bekerja di 21 negara, mengungkapkan jumlah yang mengejutkan (3,4 juta) dari orang-orang yang telah tergusur oleh proyek-proyek yang dibiayai antara 2004 dan 2013.