Resources

Peru’s government fails to tackle violence and forest destruction in the Peruvian Amazon

In April 2014, in a tragic premonition of what was to come, the leaders of Saweto, an Ashaninka village in the Peruvian Amazon, requested urgent measures from the Peruvian government to ‘prevent any attempt on our lives’. The threat had come from loggers ‘in reprisal’ for the community’s longstanding efforts to document and denounce illegal logging in their territory.

El Gobierno de Perú no enfrenta la violencia ni la destrucción de los bosques en la Amazonía peruana

En abril de 2014, en un trágico presentimiento de lo que estaba por suceder, los líderes de Saweto, una comunidad Asháninka de la Amazonía peruana, solicitaron al Gobierno peruano medidas urgentes para “prevenir cualquier atentado contra nuestras vidas”. Esta amenaza fue hecha por madereros “en represalia” por los esfuerzos hechos por la comunidad desde hace mucho tiempo para documentar y denunciar la tala ilegal en su territorio.

Le gouvernement du Pérou ne s’attaque pas à la violence et à la destruction des forêts dans l’Amazonie péruvienne

En avril 2014, dans une prémonition tragique de ce qui allait arriver, les leaders de Saweto, un village asháninka de l’Amazonie péruvienne, ont demandé que le gouvernement péruvien prenne des mesures urgentes afin d' « empêcher toute atteinte  à nos vies ». La menace provenait des exploitants forestiers « en représailles » contre les efforts déployés depuis longtemps par la communauté pour attester et dénoncer l’exploitation forestière illégale sur son territoire.

Pemerintah Peru gagal mengatasi kekerasan dan pengrusakan hutan di Peruvian Amazon

Pada bulan April 2014, dengan firasat tragis tentang apa yang mungkin akan terjadi, para pemimpin komunitas Saweto, sebuah desa Ashaninka di Peruvian Amazon, meminta agar pemerintah Peru mengambil langkah-langkah mendesak untuk 'mencegah setiap upaya untuk membunuh diri kami'. Ancaman tersebut datang dari para penebang yang melakukan 'pembalasan' atas upaya yang sejak lama dilakukan masyarakat untuk mendokumentasikan dan melaporkan pembalakan liar di wilayah mereka.

Action on land rights and FPIC are key to effective forest and climate initiatives - finds new APA and FPP special report on Guyana

Guyana has been a major proponent of international funding for avoided deforestation in tropical countries. In 2009 the government signed an MOU with the Kingdom of Norway under an agreement to reduce deforestation, pursue low carbon (non-fossil fuel) development and enter into negotiations with the EU on a trade treaty under the Forest Law Enforcement Governance and Trade (FLEGT) initiative. Almost five years after the signing of this bilateral agreement, how are indigenous peoples’ rights and local benefit sharing issues being addressed in Guyana’s land use, forest and climate policies?

Tindakan pada hak atas tanah dan FPIC adalah kunci bagi inisiatif hutan dan iklim yang efektif – temukan laporan khusus APA dan FPP yang baru tentang Guyana

Guyana telah menjadi pendukung utama pendanaan internasional untuk pencegahan deforestasi di negara-negara tropis. Pada tahun 2009 pemerintah Guyana menandatangani MOU dengan pemerintah Kerajaan Norwegia di bawah perjanjian untuk mengurangi deforestasi, mewujudkan pembangunan rendah karbon (bahan bakar nonfosil) dan melakukan negosiasi dengan Uni Eropa mengenai perjanjian perdagangan di bawah inisiatif Tata Kelola (governansi), Penegakan Hukum Kehutanan dan Perdagangan (FLEGT). Hampir lima tahun setelah penandatanganan perjanjian bilateral ini, bagaimana isu-isu hak-hak masyarakat adat dan pembagian manfaat lokal ditangani dalam kebijakan penggunaan lahan, hutan dan iklim Guyana?