Resources

Properti Masyarakat di Kenya – Risiko & Peluang

Presentasi terlampir dibuat dalam acara 'Forum Komunitas tentang Membatasi ancaman terhadap keamanan lahan masyarakat di Kenya', yang diadakan di Nairobi antara tanggal 14 dan 15 Juni 2018.

Mengenang Dan Ole Sapit

Dengan rasa sedih yang mendalam Forest Peoples Programme mendengar kabar bahwa Dan meninggal dunia secara tiba-tiba di awal Februari. Seluruh tim FPP menyampaikan dan menyatakan belasungkawa kami atas berita yang tidak diduga ini, dan simpati dan kepedihan kami terhadap janda dan anak-anaknya.

Warga Sengwer ditembak mati oleh penjaga hutan yang didanai EU

Robert Kirotich yang berusia 41 tahun hari ini ditembak mati oleh penjaga hutan yang didanai UE yang bekerja untuk Dinas Kehutanan Kenya. David Kipkosgei Kiptilkesi, seorang lainnya, terluka dan dibawa pergi oleh para penjaga dan kondisinya masih belum diketahui.

Perempuan Sengwer dari hutan Embobut meminta bantuan

Sudah lebih dari 22 kali sekarang komunitas kami telah diusir secara paksa dari tanah leluhur kami di hutan Embobut, Bukit Cherangany, oleh Dinas Kehutanan Kenya (KFS), sebuah instansi pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab atas perlindungan hutan di negara ini.

Melindungi Pembela Hutan

Sekitar 5 persen penduduk bumi adalah masyarakat adat, dan setiap hari banyak sekali warga masyarakat adat menghadapi risiko kematian dalam perjuangan melindungi tanah leluhur mereka.

Bagaimana Proyek Air Uni Eropa dapat membantu mengamankan, bukannya melemahkan, hak asasi manusia di Kenya?

Terjadi peningkatan kekhawatiran di kalangan masyarakat sipil lokal, nasional dan internasional tentang implikasi pada hak asasi manusia dari proyek UE senilai € 31.000.000, yaitu Water Tower Protection and Climate Change Mitigation and Adaptation Project (WaTER), atau Proyek Perlindungan Menara Air dan Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim, yang difokuskan pada suatu daerah di Kenya yang memiliki sejarah buruk dalam masalah hak asasi manusia.

Melestarikan ketidakadilan: Penggusuran dan pengusiran tanpa henti terhadap komunitas Sengwer di Embobut saat ini yang seharusnya tidak perlu dilakukan

Komunitas Sengwer di Embobut telah tercerai-berai, dengan sebagian besar masih tinggal di hutan-hutan mereka juga di kawasan terbuka dalam hutan di puncak Cherangany Hills meskipun telah digusur oleh Dinas Kehutanan Pemerintah Kenya (KFS). Di sana mereka menyelamatkan diri dari penganiayaan para penjaga hutan, dari pembakaran tempat huni darurat dan dari penghancuran barang-barang pokok rumah tangga mereka, serta dari ancaman penangkapan meskipun ada perintah Pengadilan Tinggi yang melarang penganiayaan dan penggusuran tersebut.

Acara Dialog Forest Peoples Programme tentang Pemantauan, Pelaporan dan Verifikasi (MRV) Berbasis Masyarakat

Dari tanggal 16 sampai 19 November 2015, FPP bekerjasama dengan mitra-mitra lokalnya yang bekerja di seluruh wilayah Afrika menyelenggarakan sebuah pertemuan di Yaoundé, Kamerun, tentang Pemantauan, Pelaporan dan Verifikasi (Monitoring, Reporting and Verification/MRV). Tujuan dari pertemuan MRV ini adalah untuk mengembangkan pendekatan umum untuk pemantauan berbasis masyarakat dan menjabarkan indikator-indikator dan alat yang tepat untuk MRV yang dapat diarusutamakan oleh FPP dan mitra di berbagai inisiatif di lapangan untuk mengamankan hak-hak masyarakat hutan.

Penggusuran paksa oleh pemerintah Kenya mengancam kelangsungan budaya masyarakat Sengwer

Artikel utama dalam Lembar Berita Elektronik FPP yang lalu berfokus pada kemajuan luar biasa yang dicapai masyarakat Ogiek dari Chepkitale, Gunung Elgon, Kenya, dalam upaya mereka untuk mengamankan hutan dan mata pencaharian mereka dengan menuliskan aturan-aturan keberlanjutan mereka dan memulai proses untuk memberlakukannya. Proses ini telah menghasilkan penangkapan para pembakar arang, dan Dinas Kehutanan Kenya (KFS) kini telah mulai membatasi aktivitas sebagian pembakar arang, serta aktivitas perambahan yang dilakukan para petani yang menimbulkan pengrusakan hutan adat.