Resources

Wilmar International implicated in police shooting of two farmers on oil palm estate

Indonesian NGOs have protested strongly to the Indonesian government authorities and RSPO about an incident they recorded on 18th December 2017, when police security forces shot and wounded two farmers. The shootings allegedly took place in one of Wilmar International’s oil palm plantations in Central Kalimantan in Indonesian Borneo.

JUMPA PERS: RSPO memutuskan Wilmar telah melanggar hak-hak masyarakat adat Kapa dari Sumatera Barat

Panel Pengaduan RSPO baru saja mendapatkan temuan, yang mendukung pengaduan terhadap raksasa minyak sawit, Wilmar International, bahwa perusahaan tersebut memang secara tidak sah telah mengambilalih tanah masyarakat adat Kapa tanpa persetujuan masyarakat bersangkutan. Di bulan Oktober 2014, masyarakat Kapa, yang merupakan masyarakat adat dari Sumatera Barat, telah mengajukan pengaduan resmi kepada RSPO yang menyatakan bahwa anak perusahaan Wilmar International, PT PHP1, telah mengambil alih sebagian tanah adat mereka dan membangun perkebunan sawit tanpa persetujuan masyarakat. 

Respecting Rights? Assessing Oil Palm Companies’ Compliance with FPIC Obligations: A case study of Maryland Oil Palm Plantation in south-eastern Liberia

This review is the result of several years of fieldwork by the Liberian civil society organisation Social Entrepreneurs for Sustainable Development (SESDev), in partnership with the UK-based Forest Peoples Programme (FPP), and is part of a UN Food and Agriculture Organisation (FAO) funded project that examines putting into practice in Liberia the FAO Technical Guide entitled ‘Respecting free, prior and informed consent, Practical guidance for governments, companies, NGOs, indigenous peoples and local communities in relation to land acquisition’.

Wilmar fails to resolve conflicts with communities in West Kalimantan and West Sumatra

In December 2013, following pressure from its customers and investors, the palm oil giant Wilmar committed to delinking its entire supply chain, including joint ventures and third-party suppliers, from deforestation, peatland development, and human rights abuses.  The commitment, to be fully implemented by December 2015, was welcomed by groups who had tracked and criticised Wilmar for its environmental destruction and human rights abuses. Two years on however, despite its promises, Wilmar has failed to resolve many long standing conflicts between its operations and impacted communities. The following material looks at a couple of cases where Wilmar has failed to resolve its conflicts with communities.

Wilmar gagal menyelesaikan konflik dengan masyarakat di Kalimantan Barat dan Sumatra Barat

Pada bulan Desember 2013, setelah mendapat tekanan dari para pelanggan dan investor, raksasa kelapa sawit Wilmar berkomitmen untuk memutus seluruh rantai pasokan, termasuk usaha patungan dan pemasok pihak ketiga, dari deforestasi, pengembangan lahan gambut, dan pelanggaran hak asasi manusia. Komitmen ini, yang akan diberlakukan secara penuh pada bulan Desember 2015, disambut baik oleh kelompok-kelompok yang sebelumnya telah melacak dan mengkritik Wilmar atas kerusakan lingkungan dan pelanggaran hak asasi manusia. Dua tahun telah berlalu, namun meski pun telah mengutarakan janji-janji, Wilmar telah gagal menyelesaikan banyak konflik yang telah lama berlangsung antara perusahaan-perusahaan miliknya dan masyarakat yang terkena dampak. Materi berikut mengamati beberapa kasus di mana Wilmar telah gagal untuk menyelesaikan konflik dengan masyarakat.

The Maninjau Resolution

The Maninjau Resolution

28th January 2016

Wilmar’s broken promises: we want action not just pledges

The world’s largest palm oil trading company, Wilmar International Ltd. (F34.SI / WLIL.SI), promised ‘Zero Exploitation’ throughout its supply chain alongside its commitment to ‘Zero Deforestation’. As human rights workers and NGOs that support the rights of the indigenous peoples and local communities in Indonesia and internationally, we NGOs who assembled here near Lake Maninjau in West Sumatra on 26-28 January 2016, declare the following.

Resolusi Maninjau

Resolusi Maninjau28 Januari 2016

Wilmar, “Kami butuh tindakan bukan ikrar”

Perusahaan perdagangan minyak sawit terbesar dunia, Wilmar International Ltd. (F34.SI / WLIL.SI), berikrar untuk menjalankan kebijakan ‘Nol Eksploitasi’ atau ‘Zero Exploitation’ di seluruh rantai pasoknya seiring dengan komitmennya untuk ‘Nol Deforestasi’. Sebagai NGO dan pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) yang mendukung hak-hak masyarakat adat dan komunitas lokal -baik di Indonesia maupun di dunia, kami, sejumlah NGO dan masyarakat yang berkumpul di lereng bukit tepi Danau Maninjau, Sumatra Barat, 26-28 Januari 2016, menyampaikan pernyataan-pernyataan berikut:

Press Release - Indonesia: The Governor of Jambi Province must take action to tackle unscrupulous conduct of palm oil plantation PT Asiatic Persada

Nurman Nuri, Leader of the Suku Anak Dalam group 113 of Pinang Tinggi in the Indonesian province of Jambi, stated in a press conference held on 3 October 2013 at the office of Indonesian NGO CAPPA: "We demand that the Governor of Jambi Province immediately revokes the HGU (Business Use Permit) of PT Asiatic Persada, as since its establishment in the 1980s no benefits at all have been derived by the indigenous Suku Anak Dalam living in this territory, only misery."

Informasi untuk Pers: Gubernur, berhentilah melindungi PT Asiatic Persada

Informasi untuk Pers – 7 Oktober 2013

“Kami menuntut agar Gubernur Propinsi Jambi segera mencabut HGU PT Asiatic Persada, karena keberadaan PT Asiatic Persada sejak tahun 1980-an tidak sedikitpun memberikan manfaat bagi masyarakat Suku Anak Dalam yang berdiam diwilayah tersebut, justru kesengsaraan yang terjadi.” Itulah kalimat yang diucapkan Nurman Nuri, Ketua Kelompok SAD 113 Pinang Tinggi dalam konferensi press yang dilakukan pada hari Kami, 3 Oktober 2013 di kantor CAPPA.

Indonesia: el gigante del aceite de palma Wilmar defrauda una vez más a comunidades locales y pone en peligro sus futuros

Wilmar, gigante del aceite de palma y miembro de la Mesa Redonda sobre el Aceite de Palma Sostenible (RSPO por sus siglas en inglés), ha llegado a un acuerdo para la venta de su concesión de palma de aceite PT Asiatic Persada sin consultar previamente a las comunidades indígenas Batin Sembilan, que ya habían iniciado un proceso de mediación en un conflicto por la tierra, y sin obtener o respetar su consentimiento libre, previo e informado. El acuerdo de venta a empresas que no son miembros de la RSPO ni están financiadas por la Corporación Financiera Internacional (CFI) pone en peligro el actual proceso de mediación de la Oficina del Asesor en Cumplimiento/Ombudsman (CAO por sus siglas en inglés) de la CFI iniciado a principios de 2012 con motivo de numerosos conflictos por la tierra surgidos en dicha concesión.

Indonésie : le géant de l’huile de palme, Wilmar, abandonne encore une fois les communautés locales et met leur avenir en péril

Le géant de l’huile de palme, membre de la Table ronde pour une huile de palme durable (RSPO), Wilmar, a accepté de vendre sa concession de palmier à huile PT Asiatic Persada sans consultation préalable ou respect du consentement libre, préalable et éclairé des communautés autochtones batin sembilan, déjà engagées dans un processus de médiation des conflits fonciers. L’accord de vente passé avec des entreprises non-membres de la RSPO et qui ne sont pas financées par la Société financière internationale compromet le processus de médiation actuel du Compliance/Advisory Ombudsman (CAO) de la Société financière internationale (SFI) sur de nombreux conflits fonciers dans la concession, en cours depuis début 2012.

Indonesia: Perusahaan kelapa sawit raksasa Wilmar kembali mengecewakan komunitas lokal dan membahayakan masa depan mereka

Perusahaan kelapa sawit raksasa dan anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO), Wilmar, telah menyetujui penjualan konsesi kelapa sawit PT Asiatic Persada, tanpa konsultasi sebelumnya atau penghormatan terhadap Keputusan Bebas, Didahulukan dan Diinformasikan dari masyarakat adat Batin Sembilan yang sudah terlibat dalam proses mediasi konflik lahan. Kesepakatan penjualan dengan perusahaan yang bukan merupakan anggota RSPO dan  tidak didanai oleh International Finance Corporation membahayakan proses mediasi yang tengah ditenggarai International Finance Corporation (IFC) Compliance/Advisory Ombudsman (CAO) atas berbagai konflik lahan di konsesi tersebut sejak awal 2012.