Ressources

Properti Masyarakat di Kenya – Risiko & Peluang

Presentasi terlampir dibuat dalam acara 'Forum Komunitas tentang Membatasi ancaman terhadap keamanan lahan masyarakat di Kenya', yang diadakan di Nairobi antara tanggal 14 dan 15 Juni 2018.

Publikasi Mendatang: Di Mana Mereka Berdiri

“Mereka terikat dengan tanah itu, dan merupakan penjaga tanah yang sebenarnya.”

Ditulis oleh penulis dan jurnalis Fred Pearce, Di Mana Mereka Berdiri mengungkapkan realitas hidup masyarakat Wapichan. "Dengan pengamatan yang rinci, Pearce mendokumentasikan tekad mereka untuk mendapatkan jaminan pengakuan yang efektif dari hak atas tanah adat mereka yang meliputi hutan hujan yang luas di DAS Upper Essequibo serta sabana, hutan tropis kering dan hutan pegunungan di Distrik Rupununi Selatan, Guyana."

Mekanisme Whakatane diluncurkan dalam WPC di Sydney, November 2014

Kongres Taman Dunia (WPC) IUCN sebelumnya digelar di Durban, Afrika Selatan pada tahun 2003. Marjinalisasi yang telah berjalan sejak lama atas masyarakat adat dan komunitas lokal dari gerakan dan kebijakan konservasi menghasilkan dorongan yang sulit bagi pengakuan akan hak-hak komunitas lokal, kontribusi masyarakat adat terhadap konservasi dan perlunya pendekatan konservasi berbasis hak. Masyarakat adat dan komunitas lokal dulu berada di luar sistem, mendesak untuk masuk ke dalam. Namun, usaha mereka telah berhasil dan telah membantu terwujudnya pengakuan atas "paradigma konservasi baru".

Lembar Berita Elektronik FPP Juli 2013 (versi PDF)

Teman-teman terhormat,

Saling mengakui, saling menghormati dan saling menguntungkan adalah atribut-atribut yang diinginkan dari semua hubungan manusia. Masyarakat adat dan masyarakat-masyarakat hutan lainnya juga mengharapkan hal-hal ini dalam hubungan mereka dengan orang lain – apakah dengan pemerintah, perusahaan swasta, NGO atau organisasi masyarakat adat dan komunitas lainnya. Edisi Lembar Berita Elektronik Forest Peoples Programme kali ini melaporkan keadaan hubungan-hubungan antara masyarakat hutan dengan berbagai lembaga – seraya hubungan-hubungan ini dibina, diuji atau pecah – dalam perjalanan penegasan untuk menegakkan hak asasi manusia, keadilan sosial dan solidaritas.

Video: Lokakarya tentang pemanfaatan berkelanjutan berbasis adat pada Konferensi Jaringan Adat Dunia (World Indigenous Network)

Dari hari Minggu 26 Mei 2013 sampai hari Jumat 31 Mei 2013 Konferensi Jaringan Adat Dunia (WIN) perdana berlangsung di Darwin, Australia. Konferensi ini dirancang untuk membangun fondasi yang kuat untuk sebuah Jaringan Adat Dunia yang inovatif dan kokoh, dengan program yang ditujukan untuk Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal yang memiliki peran aktif dalam mengelola lingkungan alam, untuk datang bersama-sama, bertemu dan berbagi cerita dan pengalaman. Baca lebih lanjut tentang WIN di sini: http://www.worldindigenousnetwork.net/