Golden Veroleum Liberia mengatakan “sampai jumpa” kepada RSPO, atau apakah itu ucapan ‘selamat tinggal’?

Deforestation in Liberia
Deforestation in Liberia

Golden Veroleum Liberia mengatakan “sampai jumpa” kepada RSPO, atau apakah itu ucapan ‘selamat tinggal’?

Menanggapi keputusan yang memberatkan dari Panel Pengaduan RSPO mengenai GOLDEN VEROLEUM LIBERIA (GVL) – sebuah putusan yang mendukung banding yang diajukan (kasus lengkapnya dapat dilihat di sini) - GVL telah mengumumkan keputusan untuk 'menarik diri secara sukarela' dari keanggotaan RSPO-nya.

Langkah ini tampaknya telah mendapat restu dari investor utamanya, raksasa kelapa sawit yang terdaftar di Singapura, Golden Agri-Resources (GAR), yang dapat dikatakan menempatkan GAR sendiri dalam pelanggaran terhadap Kode Etik RSPO. Hal ini harus menjadi peringatan bagi investor dan pelanggan GAR mengingat laporan Friends of the Earth baru-baru ini yang menyebutkan hubungan keuangan antara GAR dengan perusahaan global terkemuka seperti BlackRock, Vanguard, Rabobank, Citibank, Robeco, Northern Trust, dan Silchester International Investors di Inggris, serta para pembeli produk GAR, termasuk Nestlé, Procter & Gamble, Unilever, PZ Cussons, dan PepsiCo.

Konsesi minya sawit GVL di Liberia memang telah bermasalah sejak awalnya. Mengingat ketaatan terus menerus GVL terhadap model konsesi ‘lahan murah - masyarakat murah', yang menyebabkan kerugian terhadap lingkungan hidup dan hak asasi manusia, hal ini tidaklah mengherankan. Hal ini juga tidak lagi mengejutkan masyarakat Liberia dan aktor-aktor masyarakat sipil yang sudah bosan mendengar retorika "pemimpin pasar" GVL, sementara mereka melaporkan perusahaan tersebut ke RSPO atas pengambilalihan lahan masyarakat tanpa persetujuan, merampas kompleks pemakaman, meratakan hutan-hutan yang ditumbuhi pohon-pohon tinggi, dan belum lama ini, membangun pabrik pengolahan pertama mereka di bukit keramat masyarakat Blogbo.

Kelompok Kerja Kelapa Sawit Masyarakat Sipil Liberia telah menyatakan bahwa keputusan GVL untuk menarik diri "mencerminkan kurangnya komitmen untuk sepenuhnya mematuhi hukum Liberia, menghormati hak asasi manusia dan melindungi lingkungan hidup". Sambil mengungkapkan kekecewaan dan kekhawatiran mereka terkait keputusan tersebut, Kelompok Kerja ini telah menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan seruan yang membangunkan Liberia untuk mengadopsi Undang-undang Hak Tanah yang sudah lama ditunggu-tunggu yang sebagaimana semestinya memberikan perlindungan yang sah secara hukum terhadap hak-hak masyarakat atas tanah, bukan sekadar peraturan sukarela yang disediakan RSPO.

Dalam pengumumannya tentang penarikan diri GVL yang ditampilkan seolah-seolah hanya sementara ini, dan sambil menyusun rencana aksi keberlanjutan mereka sendiri, CEO GVL Patrice Lobet yang baru-baru ini ditunjuk menyatakan bahwa “GVL dapat menghormati semangat P&C RSPO dengan keluar dari keanggotaan.

Tidak jelas bagaimana GVL bisa berharap menghindari kontradiksi nyata dalam pernyataan publik mereka dan tindakan mereka, sementara niatnya yang sebenarnya tampak jelas: GVL menolak keputusan dan rekomendasi RSPO, dan dengan menarik keanggotaannya, mereka berusaha untuk menghindari pertanggunganjawab. Langkah ini menempatkan "perjalanan keberlanjutan" ala GVL menjadi lebih panjang, bukan lebih pendek, dan memang tampaknya menjadi penghancur sertifikasi minyak sawit berkelanjutan kredibel yang hendak diperoleh.

Tindakan GVL juga pasti akan merusak kredibilitas RSPO, dengan kritikan usang terhadap skema sertifikasi ini bahwa perusahaan dapat dengan mudah menghindari standar keberlanjutan dengan menarik keanggotaan mereka. RSPO akan menghadapi seruan untuk mengembangkan prosedur untuk mencegah dan memberi sanksi kepada perusahaan-perusahaan yang memutuskan keanggotaan, sementara pengaduan tetap belum terselesaikan. Meskipun demikian, RSPO juga layak mendapat kredit besar. Terlepas dari perjalanan yang berliku dan membuat frustasi para pengadu, RSPO telah meningkatkan sistem pengaduannya, dan menunjukkan bahwa mereka bersedia mengutuk perusahaan anggota yang melanggar standar-standarnya. Hal ini diharapkan menjadi peringatan bagi perusahaan-perusahaan lain yang ingin menggunakan keanggotaan untuk menutup-nutupi praktik yang tidak berkelanjutan, yang kini menjadikan RSPO bisa mengambil posisi yang kuat dalam kaitannya dengan investor utama GVL, GAR.