Resources

Pemimpin adat dari komunitas Santa Clara de Uchunya yang tengah menyelidiki serangan dan perusakan hutan mereka berhasil lolos dari upaya pembunuhan

Pada tanggal 11 Desember, sebuah delegasi dari komunitas Santa Clara de Uchunya, dengan didampingi oleh perwakilan Federasi Komunitas Adat Ucayali (FECONAU) dan Instituto de Defensa Legal (IDL), melakukan kunjungan lapangan untuk memeriksa kebenaran laporan tentang penyerangan ke tanah pertanian warga masyarakat yang tinggal dekat dengan tepi su

Melindungi Pembela Hutan

Sekitar 5 persen penduduk bumi adalah masyarakat adat, dan setiap hari banyak sekali warga masyarakat adat menghadapi risiko kematian dalam perjuangan melindungi tanah leluhur mereka.

Macan ini tidak suka kelapa sawit

Perkebunan monokultur kelapa sawit terus meluas di pegunungan “Montes de María” di Kolombia, menimbulkan protes di kalangan masyarakat yang kehilangan tanah

Venezuela: kebijakan pertambangan mengancam tanah adat

Venezuela banyak menjadi sorotan berita internasional dalam laporan-laporan tentang krisis ekonomi negara tersebut dan meningkatnya tindakan represif yang diambil oleh sang Presiden, Nicolas Maduro, untuk terus memegang kekuasaan meskipun kubu oposisi telah memenangkan mayoritas di Kongres. Sisi lain dari realita-realita ini mendapatkan perhatian yang sama besar.

Perusahaan minyak sawit Melka di Peru mundur dari RSPO dan dikenai denda

Sejak tahun 2014, masyarakat adat Shipibo dari Santa Clara de Uchunya dengan dukungan FECONAU (Federasi masyarakat asli Ucayali) telah menentang operasi perusahaan kelapa sawit Plantaciones de Pucallpa SAC (PdP), yang telah menghancurkan lebih dari 5.000 hektar hutan adat di wilayah Ucayali, Peru. Baru-baru ini perjuangan masyarakat telah mulai membuahkan beberapa kemenangan penting.

Situasi masyarakat adat di Paraguay: Tanah mereka dan Undang-Undang yang Akan Melindungi Mereka

Pada tanggal 12 November 2015, Forest Peoples Programme (FPP) dan mitranya di Paraguay, yaitu Federación por la Autodeterminación de los Pueblos Indígenas (FAPI) merilis satu set laporan pendamping yang menggambarkan situasi saat ini dari masyarakat adat, serta tanah, sumberdaya, dan wilayah mereka di Paraguay, bersama dengan kerangka hukum nasional yang ditujukan untuk menghormati, mempromosikan dan melindungi hak-hak mereka. Banyak yang berpendapat bahwa "perampasan tanah" yang besar yang terjadi akhir-akhir ini sehubungan dengan tanah, sumberdaya dan wilayah adat tidak akan datang dari proyek-proyek infrastruktur besar, tapi dari inisiatif konservasi dan perlindungan sumberdaya.

Publikasi Mendatang: Di Mana Mereka Berdiri

“Mereka terikat dengan tanah itu, dan merupakan penjaga tanah yang sebenarnya.”

Ditulis oleh penulis dan jurnalis Fred Pearce, Di Mana Mereka Berdiri mengungkapkan realitas hidup masyarakat Wapichan. "Dengan pengamatan yang rinci, Pearce mendokumentasikan tekad mereka untuk mendapatkan jaminan pengakuan yang efektif dari hak atas tanah adat mereka yang meliputi hutan hujan yang luas di DAS Upper Essequibo serta sabana, hutan tropis kering dan hutan pegunungan di Distrik Rupununi Selatan, Guyana."

Proyek sertifikasi tanah di Amazon Peru dikritik organisasi masyarakat adat nasional

Masa depan proyek sertifikasi tanah senilai80 juta dolar AS di Peru, yang dibiayai oleh Inter American Development Bank (IDB), berada diujung tanduk. AIDESEP, organisasi nasional masyarakat adat Amazon di Peru, berpendapat bahwa konflik atas tanah dan perusakan hutan akan meningkat akibat inisiatif ini. Organisasi-organisasi adat telah mengajukan petisi kepada pemerintah Peru menuntut sebuah proses konsultasi formal sebelum proyek berlanjut.

Masyarakat adat memobilisasi diri di Lima, namun Konferensi Perubahan Iklim gagal menghasilkan komitmen untuk masalah hak.

Peluncuran laporan dan dengar pendapat tentang deforestasi yang digelar di hadapan Pelapor Khusus PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat

Masyarakat adat menjadi pusat perhatian di acara UNFCCC COP20 di Lima pada bulan Desember 2014. Sebuah dialog internasional dengan pemerintah digelar sebelum awal perundingan.Sementara itu inisiatif dan presentasi diatur untuk menggaris bawahi kebutuhan untuk menghormati hak-hak masyarakat adat sebagai salah satu pilar untuk mitigasi dana daptasi yang berwawasan lingkungan dan berkeadilan sosial.

Mengamankan Hutan, Mengamankan Hak: Laporan Lokakarya Internasional tentang Deforestasi dan Hak-Hak Masyarakat Hutan Diselenggarakan di Palangka Raya, Indonesia, Maret 2014

Pada tahun 2012 dunia kehilangan lebih dari 20 juta hektar hutan. Kehilangan luasan hutan ini menambah ancaman yang dihadapi oleh ratusan juta masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan tropis, termasuk setidaknya 350 juta masyarakat adat yang menghuni, memanfaatkan, memiliki hak adat atas hutan, dan mengandalkan hutan untuk identitas dan kelangsungan hidup mereka sebagai kelompok komunitas yang unik.

Pemerintah Peru gagal mengatasi kekerasan dan pengrusakan hutan di Peruvian Amazon

Pada bulan April 2014, dengan firasat tragis tentang apa yang mungkin akan terjadi, para pemimpin komunitas Saweto, sebuah desa Ashaninka di Peruvian Amazon, meminta agar pemerintah Peru mengambil langkah-langkah mendesak untuk 'mencegah setiap upaya untuk membunuh diri kami'. Ancaman tersebut datang dari para penebang yang melakukan 'pembalasan' atas upaya yang sejak lama dilakukan masyarakat untuk mendokumentasikan dan melaporkan pembalakan liar di wilayah mereka.