LSM-LSM International Mengutuk Rencana IOI Group untuk Melepas Sahamnya dari Perkebunan Kelapa Sawit yang Dilanda Konflik

LSM-LSM International Mengutuk Rencana IOI Group untuk Melepas Sahamnya dari Perkebunan Kelapa Sawit yang Dilanda Konflik

LSM-LSM internasional telah mengecam pengumuman dari raksasa minyak sawit Malaysia IOI Group (IOI) bahwa pihaknya bermaksud untuk menjual sahamnya di perkebunan kelapa sawit kontroversial yang telah menjadi pusat konflik yang telah berlangsung lama dengan masyarakat di Sarawak, Malaysia.

Perkebunan IOI-Pelita mencakup tanah yang diambil dari masyarakat Long Teran Kanan tanpa persetujuan mereka. Masyarakat telah mencari kompensasi, pengakuan atas hak-hak mereka dan pengembalian lahan adat mereka selama lebih dari satu dekade. Dua minggu yang lalu, IOI akhirnya setuju untuk melakukan proses mediasi yang bermakna dengan masyarakat. Namun, keputusan untuk menjual membuat mediasi lebih lanjut tidak berarti karena IOI tidak akan lagi memiliki kendali atas perkebunan atau memliki kemampuan untuk menyelesaikan konflik dengan memenuhi kebutuhan masyarakat yang terkena dampak.

IOI adalah salah satu pedagang besar minyak sawit di pasar Amerika Utara, Asia dan Eropa. Mereka memasok minyak sawit ke perusahaan-perusahaan besar, termasuk Unilever, Hershey’s dan Mondelēz.

"IOI baru-baru ini mencoba meyakinkan pasar bahwa mereka tengah bersungguh-sungguh mereformasi masalah yang terjadi di masa lalu. Dengan pengumuman ini, IOI tidak hanya berpaling dari masyarakat, namun juga membuat orang meragukan niatnya untuk memenuhi setiap dan seluruh komitmennya terhadap keberlanjutan," kata Gemma Tillack, Direktur Kebijakan Hutan untuk Rainforest Action Network (RAN).

"Langkah terbaru IOI ini adalah upaya terakhir untuk menghindari tanggung jawabnya untuk memperbaiki ketidakadilan yang sudah berlangsung lama terhadap komunitas adat Long Teran Kanan. Kegagalan untuk memberikan perbaikan atas pelanggaran hak atas tanah akan menjadi pelanggaran utama kebijakan dan kewajiban kelapa sawitnya sebagai anggota Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO)," kata Patrick Anderson mewakili Forest Peoples Programme.

"Pengumuman ini adalah tindakan yang dilandasi niat tidak baik. Pengumuman ini dibuat pada akhir dari sebuah perundingan enam bulan yang bertujuan untuk memfinalisasi sebuah rencana aksi yang disepakati antara IOI dan masyarakat yang mengajukan pengaduan kepada RSPO pada tahun 2010. Perundingan tersebut adalah tonggak pelaksanaan penting yang diatur oleh Grassroots, Rainforest Action Network, Forest Peoples Programme dan Greenpeace, yang tetap tidak akan terpenuhi jika IOI menjual konsesi tersebut," kata Andrew Ng, juru bicara dan salah satu yang ikut mengajukan pengaduan dari Grassroots. "IOI akan membuat masyarakat Long Teran Kanan A dan B, Long Tabing Atas dan Bawah, Long Tuyut, Long Teran Batu dan Long Jegan kehilangan semua tanah, budaya dan mata pencaharian mereka."

"Jika IOI menjual sahamnya di IOI-Pelita, itu akan menjadi puncak ketidakberesannya, membuktikan bahwa IOI sungguh-sungguh tidak dapat dipercaya. Jika penjualan ini berhasil, maka perusahaan-perusahaan besar tidak punya pilihan selain menghentikan pembelian dari IOI sama sekali. RSPO juga harus mengeluarkan IOI karena pelanggaran berat terhadap peraturannya," kata Bagus Kusuma, juru kampanye hutan untuk Greenpeace Asia Tenggara.

LSM-LSM meminta perusahaan tersebut untuk membuat pernyataan resmi bahwa perusahaan akan membatalkan rencana penjualan sahamnya di konsesi tersebut dan kemudian berupaya melakukan sebuah proses mediasi yang disepakati bersama dan menyelesaikan konflik sosial ini dan pengaduan terkait ke RSPO secara tuntas.