Apakah pendanaan karbon merugikan masyarakat hutan? Bukti dari Madagascar

Apakah pendanaan karbon merugikan masyarakat hutan? Bukti dari Madagascar

Kesepakatan Paris bulan Desember 2015 mendorong negara-negara "... untuk mengambil tindakan untuk menerapkan dan mendukung, termasuk lewat pembayaran berbasis hasil... kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan" (Pasal 5) sebagai instrumen kebijakan kunci untuk mitigasi perubahan iklim.

Kesepakatan tersebut juga mengakui perlunya menghormati hak asasi manusia dalam semua aksi terkait perubahan iklim (aksi iklim). Pada prinsipnya, investasi baru di kawasan lindung dan proyek-proyek REDD+, oleh Bank Dunia dan donor internasional lainnya, terikat pada pengaman-pengaman sosial yang kuat. Ini semua harus dirancang untuk memastikan bahwa suatu proyek tidak merugikan dan menghormati hak-hak masyarakat adat dan komunitas lokal. Saat ini, pengaman konvensi perubahan iklim PBB melangkah lebih jauh lagi dan mensyaratkan pendanaan karbon untuk memberikan manfaat sosial dan manfaat 'nonkarbon' tambahan, meskipun pengaman milik Bank Dunia masih mengecewakan dalam hal ini.

Penelitian baru di hutan hujan Madagaskar di daerah timur telah menunjukkan bahwa kawasan lindung dan proyek REDD+ bahkan terus-menerus gagal untuk memberikan kompensasi kepada penghuni hutan yang paling terkena dampak oleh pembatasan-pembatasan baru yang dikenakan terhadap mata pencaharian tradisional mereka. Tim peneliti ini, yang berasal dari Universitas Antananarivo dan Universitas Bangor di Inggris, tengah menyelidiki bagaimana pelaksanaan pengaman sosial di sekitar kawasan lindung baru seluas 382.000 ha dan dalam proyek percontohan REDD+ di Corridor Ankeniheny-Zahamena (CAZ), yang dipimpin oleh Conservation International dengan pendanaan dari Bank Dunia.

Dr Mahesh Poudyal dari Universitas Bangor mengatakan: "Kompensasi seharusnya mencapai orang-orang yang paling terkena dampak negatif konservasi dan mempertimbangkan, terutama, orang-orang miskin atau rentan. Kami mendapati bahwa kompensasi lebih banyak sampai pada mereka yang lebih mudah diakses (misalnya mereka yang tinggal dekat pusat-pusat administrasi lokal), yang relatif lebih baik penghidupannya, dan yang memiliki posisi di otoritas lokal. Meskipun hal ini tidak akan mengejutkan siapa pun yang akrab dengan masalah-masalah yang umum terjadi tentang penguasaan para elit dalam proyek-proyek pembangunan, kami pikir ini adalah temuan yang sangat penting terutama pada tahap ini dalam proses global pengembangan sistem pengaman untuk proyek-proyek REDD+ baru."

Prof. Julia Jones, yang juga berasal dari Universitas Bangor, menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan BBC baru-baru ini, bahwa "Kami telah memetakan setiap keluarga yang seharusnya mendapat kompensasi dan telah menunjukkan bahwa ... proses ini memiliki beberapa bias yang sangat besar di dalamnya. Pada dasarnya, orang-orang yang telah diidentifikasi adalah mereka yang lebih mudah dijangkau secara fisik–misalnya yang tinggal lebih dekat ke jalan atau lebih dekat ke pusat administrasi. Mereka juga cenderung lebih terhubung secara sosial; anggota-anggota komite pengelolaan hutan setempat, dan mereka– rata-rata –lebih kaya atau, setidaknya, tidak terlalu miskin ".

Para peneliti ini mengidentifikasi tiga permasalahan yang menyulitkan penilaian pengaman sosial untuk secara efektif menargetkan keluarga yang tepat untuk mendapatkan kompensasi: (a) informasi yang  buruk mengenai lokasi masyarakat dan akses yang sulit membuat informasi tidak mencapai keluarga yang tinggal terpencil; (b) keengganan orang-orang yang tergantung pada perladangan berpindah untuk mengungkapkan hal ini dikarenakan adanya sanksi dari pemerintah; dan (c) ketergantungan para penilai pengaman pada institusi lokal yang tidak representatif. Para peneliti ini berpendapat bahwa dalam kasus di mana mayoritas keluarga kemungkinan besar menanggung dampak dari biaya dari sebuah proyek karbon, dan di mana identifikasi keluarga yang terkena dampak sulit dilakukan, maka strategi yang optimal, dan benar, dapat berupa kompensasi umum yang ditawarkan bagi seluruh keluarga dalam komunitas yang terkena dampak tersebut.

Profesor Bruno Ramamonjisoa dari Universitas Antananarivo mengatakan "hutan Madagaskar sangat berharga dan harus dilindungi. Namun, agar konservasi berhasil maka masyarakat setempat perlu disertakan dan mereka membutuhkan kesempatan-kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari konservasi dan tidak boleh dibuat lebih miskin oleh upaya tersebut. "

Pada akhirnya, pengaman akan rentan terhadap kegagalan kecuali masyarakat yang terkena dampak dan para pemegang hak menyadari hak-hak mereka dan dimungkinkan untuk mendapatkan ganti rugi apabila pengaman mengalami kegagalan. Penelitian ini menunjukkan bahwa komitmen-komitmen pengaman yang ada tidak selalu terpenuhi dan mereka yang menerapkan pengaman sosial dalam REDD+ sudah selayaknya tidak berdiam diri.

Berbicara mengenai mata pencaharian lokal, proyek-proyek hutan dan iklim harus menegakkan standar internasional yang relevan dan kewajiban-kewajiban para negara, termasuk yang tercantum di bawah Pasal 10 (c) dari CBD, yang mengharuskan Para Pihak untuk melindungi penggunaan berkelanjutan secara adat dari hutan dan sumberdayahayati lainnya. Kewajiban ini mencakup sistem perladangan berpindah yang seringkali berkelanjutan. Pada pengembang proyek dan pemerintah tuan rumahlah terletak tanggungjawab untuk mengakui dan melindungi hak-hak tanah dan mata pencaharian. Jika ada usulan pembatasan terhadap suatu praktik pertanian atau mata pencaharian lokal lainnya, harus terbukti bahwa praktik-praktik ini memang tidak berkelanjutan. Pada saat yang sama, bagi masyarakat adat dan masyarakat suku, FPIC (atau KBDD), yang merupakan standar utama, harus diterapkan untuk setiap usulan untuk membatasi hak-hak penghidupan dan praktik budaya atau tindakan apa pun yang mungkin berdampak pada hak atas pangan. Singkatnya, membatasi mata pencaharian lokal harus menjadi pilihan terakhir dan harus benar-benar tunduk pada keputusan yang dicapai sebelumnya dengan masyarakat melalui perwakilan yang mereka pilih secara bebas.

Makalah penelitian Global Environmental Change tersedia di: http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S095937801630005X